Minggu, 20 Februari 2011

Kualitas Bangsa Makin Parah

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

HASIL tes PISA (Program for International Student Assessment) 2009 yang
diumumkan belum lama ini, membuat Menteri Pendidikan Amerika Serikat (AS), Arne
Duncanterhenyak. “Kita harus melihat ini sebagai wake-up call,” ujarnya dalam
wawancara dengan The New York Times (7/12).

Maklum. Dalam tes yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development) yang berbasis di Paris itu -- di antara para
pelajar usia 15 tahun dari 65 negara, yang diuji kemampuannya di tiga bidang:
sains, membaca, dan matematika –- AS berada di peringkat 23/24. “Kita bisa
berkilah, atau menghadapi kebenaran brutal ini, bahwa kita ternyata tidak
terdidik,” kata Arne Duncan, gundah.

Bangsa adidaya itu patut gundah. Karena, hasil tes itu membenarkan kecemasan
Presiden Obama. Dalam pidato di depan para pelajar di North Carolina, Obama
menuturkan, ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik ke luar angkasa pada 1957,
bangsa Amerika terprovokasi dan langsung meningkatkan anggaran untuk studi
matematika dan sains, yang jadi kunci kemenangan Amerika dalam persaingan luar
angkasa.

“Limapuluh tahun kemudian, momentum bagi generasi Sputnik kita datang lagi,”
ujarnya. Dengan masuknya milyaran rakyat India dan China ke kancah ekonomi
dunia, bangsa dengan para karyawan yang sangat terdidik, akan unggul. “Itu yang
terjadi sekarang,” katanya. “Amerika berada dalam bahaya terjengkang ke
belakang.”

Hasil tes PISA 2009 membuktikan secara signifikan, negara-negara Konfusian
berhuruf kanji, berada di peringkat tertinggi (lima besar): China (peringkat 1
untuk sains, membaca dan matematika), Hong Kong (peringkat 3 untuk sains, 3
untuk matematika, dan 4 untuk membaca), Taiwan (peringkat 5 untuk matematika),
Singapura (peringkat 2 untuk matematika, 4 untuk sains, dan 5 untuk membaca).
Korea (peringkat 2 untuk membaca, 4 untuk matematika, dan 6 untuk sains),
Jepang (peringkat 5 untuk sains, 8 untuk membaca, dan 9 untuk matematika).

Indonesia berada di mana?

Pada tes PISA 2003, tatkala jumlah pesertanya 41 negara, untuk ketiga bidang
tadi, Indonesia berada di urutan 38/39/35. Artinya, kita berada di papan bawah.
Pada tes PISA 2009, dengan peserta 65 negara, Indonesia tetap jadi “juara
bertahan” di papan bawah: peringkat ke-60 untuk sains, 57 untuk membaca, dan
61 untuk matematika. Artinya, kualitas para pelajar kita, kini berada di posisi
terendah bersama Argentina, Tunisia, Albania, Panama, Peru, Qatar, Kazakstan,
Azerbaijan, Kyrgysztan.

Sebelum itu, tiga hasil studi internasional (PIRLS 2006, PISA 2006 dan TIMSS
2007) menyimpulkan: 1. Kemampuan siswa Indonesia untuk semua bidang: di bawah
rata-rata skor internasional yang 500. 2. Siswa Indonesia hanya mampu menjawab
soal-soal dalam kategori rendah, dan hampir tidak ada yang dapat menjawab
soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi.

Kita mau bilang apa? Sejak 2003 hingga 2009, kita seperti berjalan mundur, dan
terus menjadi yang terbelakang.

Apa yang terjadi dengan sistem pendidikan nasional?
Secara moral, kita sudah menjadi bangsa yang bobrok dengan korupsi merajalela.
Secara intelektual, di panggung internasional, kita tampil sebagai bangsa yang
tak maju-maju. Sehingga, benarlah pernyataan Prof. Dr. Winarno Surakhmad:
”Pendidikan nasional kita hanya menggiring bangsa Indonesia pada tragedi
nasional.”

Riuh-rendah tentang sukses beberapa pelajar Indonesia di olimpiade ini dan itu,
sungguh-sungguh telah melenakan dan menyesatkan! Itu membuat para pihak yang
seharusnya bertanggungjawab terhadap kualitas pendidikan bangsa, jadi tidak bisa
melihat realitas. Mereka tidak bisa melihat apa yang, misalnya, dilihat oleh
Presiden Obama tadi.

Kita memang tidak bisa ke mana-mana (selain berjalan mundur) jika negara dengan
populasi 237 juta jiwa ini hanya punya 2,7 juta guru, dan hanya 900.000 di
antaranya yang berpendidikan D-4/S-1.

Kita tidak akan bisa membangun generasi baru bangsa yang lebih baik apabila
sebagian besar guru di tingkat dasarnya tidak laik mengajar. Data Depdiknas
2007/2008 menunjukkan: di tingkat TK = 88% gurunya tidak layak mengajar. Di SD =
77,85%. Di SMP = 28,33%. Di SMA = 15,25%. Di SMK = 23.04%. (Sebagian besar tidak
memenuhi kualifikasi pendidikan minimum: D-IV atau strata 1. Sementara, guru TK
dan SMP umumnya berpendidikan SMA/diploma).

Generasi penerus bangsa tidak akan menjadi apa-apa jika di tingkat SMA para
pelajar tidak diwajibkan membaca buku. Sebuah survei menyebutkan, di antara 11
negara, pelajar SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul buku,
Belanda: 30 judul, Prancis: 30 judul, Jepang:22 judul, Swiss: 15 judul, Kanada:
13 judul, Rusia: 12 judul, Brunei: 7 judul, Singapura: 6 judul, Thailand: 5
judul, Indonesia: 0 judul!

Hasilnya? Sumber daya manusia Indonesia tidak jadi tenaga kerja yang unggul.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan: dari total angkatan kerja yang bekerja
(104,87 juta orang), lebih dari separuhnya (52,65% = 55,21 juta orang ) adalah
lulusan SD. Pekerja berdiploma = 2,79 juta orang (2,66%), sarjana = 4,66 juta
orang (4,44%).

Apakah kita masih punya harapan di depan? Tidak! Sebab, data Balitbang Diknas
(2003-2004) menyebutkan: dari 28,235,400 anak usia PAUD/TK, yang tidak
mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya adalah 71,96%. Di jenjang SD (dari
total 25,473,400 anak), terabaikan 5,43%. Di jenjang SMP (dari total 12,963,200
anak) = 29,81%. Di jenjang SMA (dari total 12,697,000anak) = 60,37%. Dan di
jenjang perguruan tinggi (dari total 24,911,900 pemuda) = 85,75% terabaikan!

Jadi, apa yang sudah dihasilkan oleh sistem pendidikan nasional selama 25 tahun
terakhir ini? Jawabnya: Angka pengangguran terdidik terus meningkat. Lebih dari
740.000 orang lulusan program diploma dan sarjana, menganggur!

Kita harus segera menghentikan “tragedi nasional” dengan melakukan Revolusi
Sistem Pendidikan sekarang juga! Dan itu harus dimulai dari jenjang paling awal:
pendidikan anak usia dini. Pembangunan intelektual, karakter dan budi pekerti,
hanya bisa efektif jika dimulai dari “usia emas”: 0 – 7 tahun!

*Penulis adalah sastrawan/ wartawan/ pengelola sekolah gratis TK-SD Batutis
Al-Ilmi di Bekasi, dan penerbit Media TK Sentra.